Logo Majmu' Syarif Kamil
Majmu' Syarif Kamil Standar Fisik 355 Hal
Bab 21 Halaman Fisik 121 – 128 (PDF 138)

Surah-Surah Hafalan

قصار السور للحفظ

Kumpulan 5 Surah Hafalan Lengkap (Aṭ-Ṭø̄riq, Al-Lahab, Al-Ik̂lāṣ, Al-Falaq, An-Nās) 37 Ayat

Ukuran Arab:

Tasbih Digital

Target: 33x
1 Hal 121
وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ
Was-samā'i waṭ-ṭāriq.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 1) Demi langit dan yang datang pada malam hari.
2 Hal 121
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الطَّارِقُۙ
Wa mā adrøka maṭ-ṭāriq.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 2) Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
3 Hal 121
النَّجْمُ الثَّاقِبُۙ
An-najmuṡ-ṡāqib.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 3) (Itulah) bintang yang bersinar tajam.
4 Hal 121
اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌۗ
In kullu nafsil lammā ‘alaihā ḥāfiẓ(un).
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 4) Setiap orang pasti ada penjaganya.
5 Hal 121
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
Falyanẓuril-insānu mimma k̂uliq.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 5) Hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.
6 Hal 121
خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ
K̂uliqø mim mā'in dāfiq(in).
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 6) Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar,
7 Hal 121
يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ
Yak̂ruju mim bainiṣ-ṣulbi wat-tarø'ib.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 7) yang keluar dari antara tulang sulbi (punggung) dan tulang dada.
8 Hal 121
اِنَّهٗ عَلٰى رَجْعِهٖ لَقَادِرٌۗ
Innahū ‘alā røj‘ihī laqødir(un).
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 8) Sesungguhnya Dia (Allah) benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati)
9 Hal 121
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُۙ
Yauma tublas-sarø'ir.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 9) pada hari ditampakkan segala rahasia.
10 Hal 121
فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍۗ
Famā lahū min quwwatiw wa lā nāṣir(in).
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 10) Maka, baginya (manusia) tidak ada lagi kekuatan dan tidak (pula) ada penolong.
11 Hal 121
وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الرَّجْعِۙ
Was-samā'i żātir-røj‘.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 11) Demi langit yang mengandung hujan
12 Hal 121
وَالْاَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِۙ
Wal-arḍi żātiṣ-ṣød‘.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 12) dan bumi yang memiliki rekahan (tempat tumbuhnya pepohonan),
13 Hal 121
اِنَّهٗ لَقَوْلٌ فَصْلٌۙ
Innahū laqøulun faṣl(un).
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 13) sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman pemisah (antara yang hak dan yang batil)
14 Hal 121
وَّمَا هُوَ بِالْهَزْلِۗ
Wa mā huwa bil-hazl.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 14) dan ia (Al-Qur’an) sama sekali bukan perkataan senda gurau.
15 Hal 121
اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًاۙ
Innahum yakīdūna kaidā.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 15) Sesungguhnya mereka (orang kafir) melakukan tipu daya.
16 Hal 121
وَّاَكِيْدُ كَيْدًاۖ
Wa akīdu kaidā.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 16) Aku pun membalasnya dengan tipu daya.
17 Hal 122
فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا ࣖ
Fa mahhilil-kāfirīna amhilhum ruwaidā.
(Surah Aṭ-Ṭø̄riq Ayat 17) Maka, tangguhkanlah orang-orang kafir itu. Biarkanlah mereka sejenak (bersenang-senang).
18 Hal 123
تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ
Tabbat yadā abī lahabiw wa tabb.
(Surah Al-Lahab Ayat 1) Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.
19 Hal 123
مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ
Mā agnā ‘anhu māluhū wa mā kasab.
(Surah Al-Lahab Ayat 2) Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.
20 Hal 123
سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ
Sayaṣlā nārøn żāta lahab(in).
(Surah Al-Lahab Ayat 3) Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka),
21 Hal 123
وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ
Wamrø'atuh(ū), ḥammālatal-ḥaṭab.
(Surah Al-Lahab Ayat 4) (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).
22 Hal 123
فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ ࣖ
Fī jīdihā ḥablum mim masad(in).
(Surah Al-Lahab Ayat 5) Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.
23 Hal 124
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Qul huwallāhu aḥad(un).
(Surah Al-Ik̂lāṣ Ayat 1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.
24 Hal 124
اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ
Allāhuṣ-ṣømad.
(Surah Al-Ik̂lāṣ Ayat 2) Allah tempat meminta segala sesuatu.
25 Hal 124
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ
Lam yalid wa lam yūlad.
(Surah Al-Ik̂lāṣ Ayat 3) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
26 Hal 124
وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ࣖ
Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad(un).
(Surah Al-Ik̂lāṣ Ayat 4) serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
27 Hal 125
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ
Qul a‘ūżu birøbbil-falaq.
(Surah Al-Falaq Ayat 1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh)
28 Hal 125
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ
Min ŝarri mā k̂ølaq.
(Surah Al-Falaq Ayat 2) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan,
29 Hal 125
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ
Wa min ŝarri gāsiqin iżā waqøb.
(Surah Al-Falaq Ayat 3) dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
30 Hal 125
وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ
Wa min ŝarrin-naffāṡāti fil-‘uqød.
(Surah Al-Falaq Ayat 4) dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya),
31 Hal 125
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ
Wa min ŝarri ḥāsidin iżā ḥasad.
(Surah Al-Falaq Ayat 5) dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
32 Hal 125
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ
Qul a‘ūżu birøbbin-nās.
(Surah An-Nās Ayat 1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,
33 Hal 125
مَلِكِ النَّاسِۙ
Malikin-nās.
(Surah An-Nās Ayat 2) raja manusia,
34 Hal 125
اِلٰهِ النَّاسِۙ
Ilāhin-nās.
(Surah An-Nās Ayat 3) sembahan manusia
35 Hal 125
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ
Min ŝarril-waswāsil-k̂ønnās.
(Surah An-Nās Ayat 4) dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi
36 Hal 125
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ
Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās.
(Surah An-Nās Ayat 5) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
37 Hal 126
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ
Minal jinnati wan-nās.
(Surah An-Nās Ayat 6) dari (golongan) jin dan manusia.”

Keutamaan & Fadhilah

Lima surah pilihan penutup yang termaktub secara khusus dalam naskah Majmu' Syarif Kamil (Halaman 121–128) sebagai amalan hafalan utama shalat fardhu dan shalat sunnah, memiliki keutamaan benteng perlindungan mutlak dan kemurnian tauhid.

Sumber Naskah: Naskah Asli Majmu' Syarif Kamil, Bab 21 (Halaman Buku 121 – 128 / PDF 138 – 145)

Tanya Jawab Seputar Bacaan Ini

Sebagaimana dianjurkan oleh para ulama dan tercantum dalam naskah Majmu' Syarif Kamil, waktu utama untuk membaca doa dan wirid ini adalah setelah shalat fardhu (khususnya Subuh dan Maghrib), sepertiga malam terakhir, atau pada malam Jumat.

Dalam naskah standar Edisi Jumanatul 'Ali-ART Bandung (2007), bacaan ini tercetak pada halaman 121 (bertepatan dengan halaman PDF 138 sesuai rumus presisi PDF = Halaman + 17).

Simbol tersebut merupakan kaidah fonografi santri naskah asli Majmu' Syarif Kamil. Huruf ø menandakan vokal tebal (tafkhim), sedangkan tanda circumflex dan titik bawah membedakan makhraj huruf hijaiyah agar bacaan tetap tepat dan sah secara tajwid.

Kebenaran Naskah Terverifikasi 1:1

Seluruh susunan kata Arab, harakat, dan transliterasi telah diaudit secara seksama berdasarkan naskah fisik Majmu' Syarif Kamil (Penerbit Jumanatul 'Ali-ART Bandung 2007) dengan rujukan 355 halaman. 100% bebas dari sisipan iklan dan bebas biaya langganan.